Wisata Dieng : Dieng Culture Festival

Posted: December 31, 2014 in Travel

Awalnya, Yuli teman saya sesama penyuka fotografi memberitahukan bahwa sedang ada penjualan tiket Festival Dieng di twitter. TERBATAS! Awalnya agak ragu juga sih, saya pernah ke Dieng, tapi memang sudah lama dan belum pernah menyaksikan upacara pemotongan rambut gimbal disana. Dan untuk yang hobby motret seperti kami, ini adalah momen langka. Akhirnya, saya memutuskan juga untuk pergi, dan langsung gerak cepat untuk booking tiket kereta karena takut kehabisan, sedangkan booking penginapan berbagi tugas dengan Yuli teman traveling saya.
Event Festival Dieng (Dieng Culture Festival) di Tahun 2014 ini menginjak yang ke-5, diadakan pada tanggal 30-31 Agustus dengan tema : The Miracle of Culture”. Acaranya antara lain :

  1. Ritual pencukuran rambut gimbal
  2. Parade kesenian
  3. Pameran kerajinan dan expo
  4. Festival film Indie Dieng
  5. Pesta Balon dan lampion
  6. Pesta kembang api
  7. Pagelaran Jazz atas angin
  8. Jalan sehat
  9. Bakar jagung masal
  10. Minum purwaceng bareng (Purwaceng adalah minuman khas Wonosobo,yang juga sebagai “obat kuat” lelaki)

Karena teman lainnya yang diajakin ada yang tidak pas waktunya berangkat ke Dieng, akhirnya cuma saya dan Yuli yang pergi. Berangkat dari stasiun Pasar Senen Jakarta Jumat malam, turun di stasiun Purwokerto. Lucunya nih, waktu sampai stasiun Purwokerto itu masih dini hari dan kita ketiduran. Biasanya ada petugas yang membangunkan, tapi ini entah udah dibangunkan gak kebangun, apa gak ada yang bangunin? Pas orang-orang pada ribut turun saya pun terbangun. Karena merasa sudah Purwokerto,cepat2 saya bangunkan teman. Benar saja, pas turun dari kereta terpampang tulisan : PURWOKERTO. Fiuuuuh….nyaris saja kebawa sampai Solo🙂

Di stasiun kita istirahat sebentar, menunggu waktu Shubuh. Rencananya Purwokerto-Wonosobo mau naik travel, naik taksi ke salah satu travel referensi teman, tapi ternyata tempat yang dituju masih tutup. Sama Abang Taksi-nya kita diantar ke terminal, disuruh nunggu di pintu keluar saja. Karena masih sepi, dan terminalnya masuk jauh ke dalam. Tidak lama bus tiga-perempat jurusan Wonosobo lewat, kita pun naik. Perjalanan sekitar 2-3 jam, dan sepanjang jalan saya pun tiduuuuuur!🙂

Sampai Wonosobo kita tidak diturunkan di terminal, entah dimana, pokoknya langsung diturunkan di suatu tempat yang disitu banyak ngetem bus tiga-perempat yang ke Dieng. Parahnya, udah kebelet pengen pipis dan ga nemu toilet! Sama sopir dan keneknya disuruh buru-buru naik, katanya bakal dicariin toilet di pom bensin terdekat. Hadeuuh…..

Satu bus itu banyak yang tujuannya sama mau ke Festival Dieng juga. Parahnya, lama banget bus-nya jalan, berhenti melulu naikin penumpang. Sampai penuh pun diangkut, dan banyak yang bawaannya banyak banget. Entah yang jualan, entah yang dari pasar. Udah gitu sopir yang menjanjikan mencarikan toilet ingkar, pom bensin dilewatin aja gitu! Pas sampai pasar, akhirnya saya turun nyari toilet darurat, dan bis-nya juga masih nunggu penumpang yang belanja. Bayangkan, Bus berhenti karena ada penumpang yang mau belanja dulu. Ada-ada saja…

Dieng1

GERBANG SELAMAT DATANG DI DIENG

Sampai Dieng, jalanan lumayan macet karena rangkaian acara sudah dimulai.    Kita menghubungi panitia dulu buat ngambil tiket dan dikasih goody bag yang isinya : kaos, kain batik, lampion, dan jagung mentah. Habis itu, kita langsung ke penginapan buat bersih-bersih. Karena sedang ada acara, penginapan juga banyak yang full. Panitia malah menyediakan penginapan di tenda, tapi saya yang pernah ngalamin gimana dinginnya Dieng, ga mau ambil paket itu. Kita akhirnya dapet penginapan ruko gitu, depannya dipake jualan oleh-oleh khas Wonosobo. Gapapalah, masih syukur dapet penginapan, kamar mandi dalem pula. Istirahat sebentar, mandi, habis sholat nyari makan. Pengen nyobain Mie Ongklok khas-nya Wonosobo.

Mie Ongklok

MIE ONGKLOK 

Setelah itu cusssss…kita berangkat ke Telaga warna. Perasaan dulu deket, jadi ga usah naik kendaraan. Ternyata pas dijalanin lagi jauh beneeeer! Hehee… Mayan juga olahraga kaki.Telaga warna ini biasanya dipake buat tempat pelarungan rambut gimbal. Selain telaga, ada juga objek wisata lain di sekitar itu seperti teater kecil yang menggambarkan kondisi Dieng (dulu pas pertama kesini saya sudah nonton filmnya), gua-gua, kawah, dan candi.

3

TELAGA WARNA DIENG

Setelah puas bernostalgia melihat telaga, kita melanjutkan perjalanan ke Kawah Sikidang menggunakan ojek. Kawah belerang yang masih aktif, bahkan kalau telur direbus disini katanya bisa langsung matang. Jangan lupa pakai masker, bau belerangnya sangat kuat sekali. Sebaiknya jangam terlalu berlama-lama disini, nanti pusing.

Dieng15

Telur Rebus KAwah

KAWAH SIKIDANG

Objek wisata selanjutnya yang kita kunjungi adalah Candi. Ada beberapa kompleks Candi di Dieng, namun kami hanya mampir di kompleks Candi Setyaki. Karena akan dipakai lokasi upacara pemotongan rambut gimbal, beberapa area Candi Arjuna sudah disterilkan dan tidak boleh dimasuki. Puas melihat-lihat dan berfoto, kita memutuskan untuk kembali ke penginapan, persiapan buat rangkaian acara nanti malam: bakar jagung massal,  Jazz di atas langit, pesta lampion, dan kembang api.

Candi2

CANDI SETYAKI

Oh ya, Dieng ini selain terkenal dengan Carica-nya (sejenis pepaya yg dibuat manisan)  juga banyak produksi kentang. Jadi jangan heran kalau selama disana saya sering banget makan kentang goreng yang masih panas-panas dicampur bumbu dan saos. Yummy….

Carica

Makanan1

Setelah maghrib, kita baru keluar. Suasana sudah sangat ramai, dan suhu sudah amat sangan dingin! Brrrrr…. Jaket tebal dan sarung tangan pun tak mampu menahan dingin. Beku! Yang sungguh sangat disayangkan, acaranya tidak terkoordinir dengan baik. Rundown sih ada, tapi tidak jelas pelaksanaanya. Padahal pengunjung tidak main-main loh membludak dari mana-mana. Akhirnya orang ngalor-ngidul ga jelas. Mau ikut bakar jagung, harus gantian, karena tempat bakarnya terbatas. Mata perih pula kena asap, tapi sebenernya lumayan anget sih diem di depan perapian.

Bakar Jagung Masal

Akhirnya,kita memilih untuk standby di lokasi Jazz di atas langit. Ini pengalaman saya pertama menonton Jazz di alam terbuka, di tengah cuaca dingin seperti ini. Bromo juga sering ngadain, namanya Jazz di atas gunung. Disini pengisi acaranya bukan penyanyi Jazz papan atas, namun saya cukup menikmati. Apalagi ada lagu band Padi kesukaan saya dibawakan, dan semua penonton koor menyanyikan lagu Begitu Indah “Karena dia…Begitu Indaaaaaaaaaah”. Ya,seperti langit di malam dingin beku ini yang begitu indah. Serasa nostalgia banget ke masa-masa suka nonton konsernya Padi. Bertambah indah lagi bersamaan dengan pertunjukan kembang api dimulai dan lampion mulai dinyalakan. Subhanallah….Indahnya🙂

Jazz Di Atas Awan

JAZZ DI ATAS AWAN

Dieng Lampion

Karena tidak tahan suhu yang bertambah dingin, ditambah kecapean mungkin ya, akhirnya kita pulang duluan sebelum acara usai. Padahal teman saya mengajak dini hari-nya berburu sunrise di Sikunir. Tapi sampai malam belum ada kejelasan ojek yang akan dipakai menuju kesana, akhirnya gak jadi pergi.

Besok paginya adalah acara puncak ritual pemotongan rambut gimbal. Sengaja banget, sudah nongkrongin pagar pintu masuk biar dapet tempat motret PW (Posisi Wuenak). Tapi ternyata venue belum boleh dimasukin sebelum rombongan datang, dan sebelum pemotongan rambut itu ada acara “Jamasan Pusaka” (pencucian alat pusaka) dulu. Akhirnyaaaaa…kita tungguin lah rombongan selesai acara dan masuk semua ke venue, sementara kita sudah ricuh desek-desekan diluar😦 Sudah gitu, yang boleh masuk duluan adalah pemegang kartu VVIP, padahal beberapa masih ada dibelakang barisan. Bahkan sama sekali belum berada di lokasi.  Kenapa tidak dari awal mereka atur, sudah panas-panasan, desek-desekan, komplit deh!😦

Ada 7 anak gimbal yang mau dipotong rambutnya,berumur sekitar 3-10 tahun. Fenomena anak berambut gimbal di Dieng ini,menurut pembawa acara proses ritual adalah keturunan Eyang Kolodite, sesepuh Dieng. Ketika rambut gimbal muncul, si anak akan terserang demam tinggi yang tidak bisa diobati sampai keluarnya rambut gimbal, dan akan sembuh dengan sendirinya. Untuk pemotongan rambut gimbal sendiri  tidak boleh dipaksakan, harus atas keinginan si anak,  dan apapun permintaan si anak yang sering diminta harus dikabulkan agar si anak tidak sakit dan rambut gimbalnya juga katanya akan kembali tumbuh .

Unik-unik deh permintaan mereka, namanya juga anak-anak ya :)  mau tau permintaan mereka?

– Ismayanan : apel merah + sepeda berwarna pink

– Vera : Didoakan anak yg sehat dan sholeh (Hmmmh…anak yang baik ya!)

– Anggun : 1 ekor kambing

– Nurul isnaeni : Sepeda dan esl ilin yang dijual tetangga

– Alifia Kesya: coklat satu keranjang

– Widatul Hikmah: HP yang ada kamera (Anak ini usianya sudah lumayan besar, jadi permintaannya sudah lebih keren)

– Natasya Wulan Syafitri: Sepeda berwarna merah
Acara pemotongan rambut dipimpin oleh Mbah Naryono. Acara selain dihadiri keluarga, undangan, juga para pejabat tinggi daerah. Desa Wonosobo ini masuk ke dalam perbatasan wilayah Banjarnegara dan Wonosobo.

Foto-Foto ritual pemotongan rambut gimbal seperti dibawah ini :

Ritual Pemotongan Rambut Gimbal Resize

Setelah pemotongan rambut, dilanjutkan dengan pelarungan rambut gimbal yang sudah dipotong ke Telaga Warna. Namun karena sudah terlalu siang, kita melewatkan acara ini dan siap-siap packing kembali ke Jakarta. Saking membludaknya penonton, membuat macet jalanan, bahkan mencari angkutan ke Wonosobo pun susah! Finally kita nebeng truk, meski harus bayar lebih mahal daripada mikro bus yang awalnya kita tumpangi pas datang ke Dieng. Mana satu truk isinya full… Yah,terima saja deh, daripada ketinggalan kereta. Itupun awalnya kita mau naik kereta dari Jogja, tapi karena takut ketinggalan, akhirnya naik kereta dari Purwokerto. Meskipun jadinya harus lebih lama menunggu di stasiun, karena terlalu awal sampai. Dari terminal Wonosobo kita naik bus tiga perempat ke Purwokerto, dari terminal ke stasiun Purwokerto kita naik taksi, untungnya masih ada taksi yang mau pakai Argo.

Saya sih berharap kalau acara ini akan terus diadakan yang ke 6 dan seterusnya, mudah-mudahan Panitia-nya mau belajar dari kekurangan. Meskipun saya ngerti banget sangat sangat repot mengatur acara dengan melibatkan banyak orang seperti ini. Mudah-mudahan semuanya bisa lebih teratur. Dieng Culture Festival ini adalah event yang banyak didatangi dari berbagai penjuru. Buatlah pengunjung merasa aman, nyaman, dan tidak sungkan untuk mau kembali lagi ke Dieng.

Comments
  1. potrehkoneng says:

    pas acara ini, saya juga kesini loh mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s