JOGJA, Never Ending Story

Posted: December 29, 2012 in Travel

Pernah ke Jogja? Saya sering🙂 Beberapa catatan perjalanan ke Jogja sudah saya upload juga disini..

Beberapa waktu lalu (april 2012) karena mendapatkan promo tiket Air Asia, saya kembali ke Jogja, kali ini dengan menggunakan Pesawat. Biasa naik kereta, ini perjalanan saya ke Jogja pertama kali menggunakan Pesawat. Sebetulnya kalau disuruh milih, lebih enak naik kereta loh…karena stasiun-nya terdapat di pusat kota. Sementara bandara? Jauuuuh….

Perjalanan ke Jogja kali ini lebih ke arah “semi solo traveler”. Beberapa dilakukan sendiri, beberapa dilakukan dengan teman saya. Dari Jakarta sih sendiri, tapi kemudian ada teman yang juga sedang berlibur ke Jogja dan beberapa juga membuat janji dengan teman yang domisili di Jogja.

Karena ini adalah perjalanan sendiri. Saya ingin mengunjungi tempat-tempat di Jogja yang selama ini belum pernah saya kunjungi:

MESJID KAUMAN JOGJA

Sebagai Jilbab Traveler, saya mempunyai keinginan di setiap traveling saya, jika memungkinkan dan ada situs sejarah Islam disana akan dikunjungi. Salah satunya adalah Mesjid. Saya mempunyai keinginan bisa sholat di beberapa Mesjid bersejarah. Begitupun ketika ke Jogja, saya berniat mengunjungi Mesjid Kauman. Sebetulnya ada modus lain sih…sekalian makan di Bakmie-nya Pa’ Pele yang legend itu🙂 Mesjid Kauman ini terletak di sebelah barat alun-alun utara, masih di kawasan Keraton Jogja. Katanya sih bentuk yang sekarang ini bukan bentuk asli, karena pernah diterjang gempa pada tahun 167. Saya tahu keberadaan tentang mesjid ini dari Film-nya Hanung yang waktu itu shooting di lokasi ini🙂 Yang unik dari mesjid ini antara lain adalah bentuknya yang tidak seperti mesjid kebanyakan yang punya Kubah, tapi atapnya berbetuk Tumpang Tiga. Berdasarkan referensi yang saya baca, mesjid ini dibangun pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I,dengan arsitek K. Wiryokusumo, dan masjid ini mempunyai pengulu pertama yaitu Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat.

TUGU JOGJA, MALIOBORO dan sekitarnya 

Apaaah?!!! Sering ke Jogja tapi belum pernah ke TUGU JOGJA? Hehee… IYES! *Sambil ngangguk malu. Untuk itu, di sela perjalanan,saya meluangkan waktu untuk mampir ke landmark-nya kota Jogja ini. Berangkat pagi-pagi dari penginapan (di sekitar Malioboro) inginnya sih berburu sunrise,tapi kesiangan. Hihi…Finally,cuma foto-foto aja deh.

Dari Malioboro,meskipun agak jauh..Saya memutuskan berjalan kaki. Sekalian olahraga pagi ceritanya. Kalau dr arah Malioboro, gampang aja kok,tinggal luruuuuus aja ke arah stasiun Tugu. Tugu Jogja ini adanya tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro (gak tau wilayah? Buka Google Maps/GPS deh. Hehee..).

Yg paling ga enak dr solo traveler itu adalah : Ga ada yg motretin🙂 Jadi ga ada deh foto-foto narsis, lagi ga’ bawa tripod juga. Dan ini nih yg bikin bete juga, buat cewe’ sendiri jalan-jalan, masih agak rentan kena godaan. Kalo cuma suit-suit hehee sih ga masalah, selama mereka ga’ nyenggol, dipelototin juga pergi, atau cuek is the best :-p Waktu dari bandara menuju Malioboro juga males aja ditanya-tanya gitu. Sendiri? Halah… emang kenapa ya?.


Tapi kemarin pas ke Jogja itu yang paling nyebelin, saya dipalakin sama pengemis -__- masih muda, maksa pula! Ga’ dikasih ngikutin terus. Bikin serem! Tapi pas udah dikasih (untungnya) dia pergi. Akhirnya, pulangnya saya pilih naik Trans Jogja. Serem dikuntit. Hiiiiiiy….

Karena naik Trans Jogja,biar lamaan dikit nainya,akhirnya saya lanjutkan mencari sarapan di Pasar Beringharjo. Mau nyobain Nasi Pecel-nya yang legend itu! banyak pilihan, karena saya ga’ tau mana yang paling enak, saya pilih yang paling banyak orang nongkrongnya🙂 Setelah kenyang makan, ada tambahan enegrgi lagi buat jalan-jalan. Ga mau cepat-cepat pulang ke penginapan, akhirnya dari Pasar Beringharjo saya lanjut ke arah kawasan Loji-loji, dimana terdapat bangunan-bangunan kuno buatan Belanda. Karena masih pagi, belum pada buka juga..akhirnya saya Cuma motret saja. Ada Monumen Serangan Umum 1 Maret, Benteng Vredeburg, Kantor Pos Besar, Gedung Agung, Gedung Bank Indonesia dan Gedung BNI. Bangunan-bangunan kuno ini terlihat sangat unik dan masih terawat dengan baik. 


Setelah capek dan puas jalan-jalan. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang kembali ke penginapan.     

MUSEUM AFFANDI

Kalo barengan sama temen-temen, belum tentu sealiran suka-nya. Apalagi ke Museum🙂 untuk itu, itinerary saya untuk traveling kali ini diantaranya juga adalah Museum Affandi. Sambil menunggu teman yang belum datang dari Jakarta. Siapa sih..yang gak tau Alm. Affandi, pelukis abstrak yang kondang itu.


Museum ini terletak di Jl. Laksda Adisutjipto 167 Yogyakarta. Bisa naik Trans Jogja turun di Halte Jalan Solo (Lupa, yang Debrito apa Gedung Wanita), tinggal dilanjutkan dengan jalan kaki. Di Museum ini, selain terdapat lukisan-lukisannya Alm.Affandi, barang-barang peninggalannya semasa hidup, juga ada cafe buat nongkrong. Oh ya, disini juga ada makam Alm.Affandi beserta istrinya, juga Galeri Lukis anaknya.

Sayangnya, kita ga boleh foto-foto di area pameran. Hanya bisa foto di halaman dan sekitar cafe. HTM untuk turis lokal dan turis asing dibedakan. Untuk turis lokal Rp 20.000,sedangkan turis asing Rp 50.000 Rp, sudah termasuk souvenir dan softdrink.

Waktu saya kesana, museum-nya sepi. Hanya ada beberapa pengunjung. Papan penunjuk yang menyatakan itu Museum aja kurang begitu terlihat, awalnya agak ragu buat masuk. Tapi setelah bertanya sama orang dijalan, ternyata benar itu museum-nya🙂

 

RAMAYANA


Turis asing, kalau ke Jogja yang dicari adalah Sendratari Ballet Ramayana. Sebagai orang lokal, saya pun penasaran. Masa sih kalah sama bule🙂

Penasaran, saya bersama teman dari Jakarta menjadwalkan untuk melihat pertunjukan ini. Tempat pertunjukan di Panggung Terbuka Ramayana (Kalau pas musim hujan pindah ke Panggung tertutup Trimurti. Awalnya ingin naik Trans Jogja, karena ada Trans Jogja yang sampai Prambanan. Tapi setelah dipikirkan lebih jauh ,mending naik taksi saja. Itupun atas rekomen teman saya yang sudah duluan sampai disana.”Gelap tempatnya, tidak kelihatan Halte Trans Jogja juga”.

Benar saja, pas sampai Prambanan kok sepi ya…Untungnya Pak Sopirnya tahu, mungkin sering mengantar turis juga ke tempat pertunjukan ini. Dan saya pun diantarkan tepat sampai pintu gerbang.  Ternyata tempatnya bukan di tempat wisata candi-candi itu. Agak ke samping.  Justru dari lokasi pertunjukan sendratari ini Prambanan-nya terlihat indah sebagai latar pertunjukan.

Durasi pertunjukan sekitar 2 jam Jam. Ada istirahat-nya. Buat yang ga suka sendratari dan wayang, mungkin agak bosenin🙂 ga bisa bahasa jawa? Nyantai aja.. Ada juga Indonesia-nya kok. Sebelum pertunjukan kita dikasih selebaran narasi-nya, ada 2 bahasa: Indonesia, english.
Saya sendiri lumayan menikmati pertunjukan ini. Tapi karena durasi cukup lama, ketambah siang-nya capek keliling, agak ngantuk juga sih. Hihi… Paling seru sih waktu ada api-nya gitu. Mengingatkan saya akan pertunjukan sendratari Ramayana di Uluwatu. Keren deh pokoknya! Apalagi dibuat kolosal gitu. Drama, Tari, dan musik dijadikan satu.

Thanks to:

Trans Jogja, yang sudah menjadi teman setia perjalanan saya selama di Jogja. Mas Jusan buat traktirannya di Pendopo Angkringan Dalem. Helley buat navigasi-nya selama disana. Poppa dan Kiky untuk teman perjalanan nonton Sendratari Ramayana. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s