BACKPACKER KE KOREA: Korean Demilitarized Zone (DMZ) & CENTRAL MOSQUE

Posted: October 10, 2012 in Travel

24 MARET 2012 (DAY-3)

Pada awalnya, DMZ tour sama sekali tidak termasuk dalam agenda perjalanan kita. Namun ketika browsing wisata apa saja yang ada di Korea, kita menemukan blogger yang menceritakan perjalanan serunya ke DMZ. DMZ merupakan Zona Netral diantara Korea Utara dan korea Selatan , panjang 248 km dan lebar hampir 4 km. Jalur yang melintasi Semenanjung Korea ini berguna sebagai zona penyangga antara Utara dan Selatan Korea.

DMZ tour ini sebenarnya adalah tour yang berbahaya, tapi entah kenapa, kita penasaran untuk mencobanya. Namanya juga jiwa petualang🙂 Kenapa sangat berbahaya? Karena wilayah ini adalah wilayah perbatasan antara 2 negara yang bertikai, yang sewaktu-waktu bisa terjadi konflik. Tour yang berbau militer ini tentu saja berbeda dengan tour biasanya, dan diawasi dengan sangat ketat.

Untuk mengikuti tour ini, sebelumnya kita mendaftar terlebih dahulu di sebuah agen perjalanan. Tour DMZ ada yang full day dan ada juga yang half day. Karena biayanya lebih murah dan tidak memakan waktu lama, kita cukup mengikuti half day tour DMZ. Dijemput di penginapan, selanjutnya kita bergabung satu bus dengan wisatawan lainnya dari berbagai negara. Di dalam bus, kita diberitahu terlebih dahulu aturan selama kita mengunjungi DMZ. Diantaranya: Wajib membawa Paspor, dilarang memotret/video di area tertentu, juga dilarang melakukan gerak-gerik yang mencurigakan karena dikhawatirkan mengirimkan simbol-simbol tertentu.

Untuk memasuki wilayah DMZ kita diharuskan mencatat nomor dan nama Paspor kita, dan dilakukan pemeriksaan di gerbang utama oleh militer Korea. Setelah semuanya dianggap aman, kita diperbolehkan masuk kedalam. Seringkali guide tour mengingatkan kami untuk tidak memotret di area yang dilarang keras untuk difoto.

Areal yang pertama kami kunjungi adalah DMZ Theater. Disini kita diperlihatkan film dokumenter yang menceritakan awal terjadinya perang Korea Utara dan Korea selatan, dan bagaimana keadaan perang waktu itu. Selain film, ada juga ruang pameran senjata-senjata tua bekas perang korea dulu. Miris sekali melihat keadaan dua saudara yang bertikai ini, apalagi waktu guide berceritan ada sebuah keluarga yang terpisah, dan tidak bisa berkumpul kembali karena keluarga ini hidup di  dua negara, Korea Utara dan Korea Selatan.

Areal selanjutnya yang kami kunjungi adalah Third infiltration tunnel. Jadi ceritanya, untuk menembus ke Korea Selatan, katanya pihak Korea Utara pernah mencoba untuk membuat terowongan bawah tanah sebanyak 4x percobaan. Namun keburu ketahuan oleh pihak Korea Selatan, dan akhirnya terowongan itu ditutup. Terowongan pertama ditemukan 1974, terowongan kedua ditemukan tahun 1975, terowongan ketiga ditemukan tahun 1978 dan terowongan keempat ditemukan  1990. Kita hanya diperbolehkan melihat 3rd infiltration tunnel ini.

Untuk menuju lokasi ini, sebelumnya kita diharuskan menyimpan semua barang bawaan di locker yang sudah disediakan gratis. Kemudian kita juga diwajibkan memakai helm pengaman. Lorong yang kita lewati untuk perginya sih lumayan  menurun, namun pulangnya siap-siap saja simpan tenaga untuk melakukan perjalanan yang menanjak dan jauh. Di dalam areal terowongan ini kita dilarang keras untuk memotret. Semakin jauh kedalam mendekati blokade, jalanan semakin menyempit dan lembab. Bahkan di beberapa sisi ada air yang menetes. Sebelum berangkat, guide sudah memberi peringatan bagi mereka yang phobia ruang sempit untuk tidak mengikuti perjalanan ke terowongan ini.

Ada pengalaman menarik ketika selesai mengikuti perjalanan ke 3rd infiltration tunnel ini. Tiba-tiba ada seorang tourist dari China yang menghampiri saya “May I take your picture?”. Usut punya usut, ternyata dia tertarik dengan jilbab yang saya kenakan. Waktu itu saya sedang memakai penutup kepala dengan model turban🙂 aneh kali ya fashion gue, dengan jaket tebal gitu, jadi mirip orang Eskimo! Hahahaa….

Selanjutnya, kami dibawa ke sebuah tempat yang dinamakan Dora Observatory. Disini kita bisa meneropong wilayah perbatasan Korea Utara dengan teropong koin (kalau ada yang sudah masuk ke atas monas, seperti itulah bentuknya). Diantara perbatasan ini, terdapat 2 desa perdamaian yang dibangun baik di sisi Utara maupun di sisi selatan. Untuk wilayah Utara, Desa perdamaian tersebut dinamakan Kijong – Dong, dan untuk Wilayah Selatan Desa Perdamaian itu dinamakan Daeseong-dong. Disini juga kita tidak boleh memotret di areal peneropongan, namun ada sebuah garis kuning sekitar 5 meter dari areal tersebut yang diperbolehkan untuk memotret.

Seperti yang diceritakan guide-nya, pernah terjadi semacam “perlombaan” tidak resmi antara kedua negara ini, yaitu tinggi-tinggian membangun tiang bendera. Ketika waktu itu Korea Selatan membangun tiang bendera setinggi 98,4m, lalu Korea Utara membalasnya dengan membangun tiang bendera yang sangat tinggi yaitu 160m! Bendera itu dinamakan “Flagpoe War”. Dengan teropong koin itu, kita bisa melihat dengan jelas keberadaan tiang bendera Korea Utara yang sangat tinggi itu.

Tempat terakhir yang kami kunjungi di tour DMZ ini adalah Dorasan Station. Dulunya stasiun ini untuk melayani pengiriman barang antara Korea Utara dan korea Selatan, namun pada 1 Januari 2008 Korea Utara menutup secara sepihak jalur ini. Dilihat dari bangunannya sekarang, stasiun ini terlihat sangat megah. Sudah lengkap dengan bangku –bangku ruang tunggu untuk penumpang, loket tiket, dan stasiun ini dijaga oleh militer. “Rencananya” suatu saat nanti, jika kedua negara bersatu, kita bisa naik kereta dari sini menuju Korea Utara, bahkan sampai ke Eropa! Semoga…

Tour di DMZ sudah berakhir, namun banyak pikiran masih berkecamuk selama perjalanan dalam bus wisata yang membawa kami menuju ke Seoul. Sungguh sangat disayangkan ketika dua negara yang bertetangga ini bertikai. Semoga suatau saat nanti akan ada sebuah kata perdamaian,seperti halnya dulu dirobohkannya tembok bberlin (yang meisahkan Jerman Barat dan Timur) dan DMZ hanya akan menjadi Zona kenangan. Peace!

Btw, ini sempet foto Narsis sama petugas yang ada di DMZ. Masih muda-muda loh… Mirip ga sama Kangin Super junior? waktu itu kan dia lagi Wamil juga, hihi….

Mengunjungi Central Mosque di Itaewon

Sepulang dari DMZ, kita mengunjungi Itaewon untuk mencari Central Mosque. Itaewon ini merupakan daerah-nya turis di Korea Selatan. Awalnya daerah ini merupakan tempat tentara Amerika tinggal setelah perang Korea 1950-1953, kemudian lebih populer lagi ketika banyak turis mengunjungi wilayah ini di saat Olimpiade seoul 1998 dan FIFA World Cup 2002. Disini kita tidak seperti berada di Korea, karena banyak dijumpai turis-turis asing dari berbagai negara. Bahkan menuju kawasan Central Mosque, kita seperti berada di kawasan Timur Tengah. Karena banyak Restaurant dan toko-toko bernuansa Timur Tengah dan bertuliskan “HALAL” di sepanjang jalan. Senang rasanya ketika akhirnya bisa menjumpai kata-kata “Halal” , karena susah sekali kita menemukan makanan Halal di Korea.

Sebelum menuju Central Mosque, kita mampir di sebuah resto kecil Kebab Ankara. Disini kita sekalian menanyakan letak mesjid yang ternyata lumayan terhimpit letaknya di antara bangunan-bangunan lainnya. Untuk menuju kesana, jalanan lumayan menanjak. Sedikit berolahraga di siang hari sebelum makan besar🙂 toh karena cuaca dingin tidak akan keluar keringat juga. Kapan lagi bisa makan masakan Halal ala Korea?

Sampai di Central Mosque, kita melakukan shalat Dzuhur sekalian  Jama’ shalat Ashar. Mesjidnya lumayan besar, karena letaknya di atas bukit, pemandangan yang terlihat dari sini juga lumayan bagus. Meski cuaca sangat dingin, bahkan beberapa saat sebelumnya sempat turun salju (padahal harusnya sudah menjelang musim semi loh! Bahagaia sekali rasanya merasakan salju pertama saya. Tapi sayangnya susah diabadikan, karena butirannya sangat halus, ga tampak di kamera. Hiks…), kita sempat foto-foto mengabadikan kemegahan mesjid ini. Rasanya bangga dan terharu, di negara yang mayoritasnya bukan muslim, bisa juga berdiri mesjid yang sedemikian megahnya. Di lantai bawah ada pusat studi Islam, dimana siapa saja bisa belajar Islam. Saya melihat ada beberapa orang korea juga yang berada disitu.

Setelah puas berkeliling, kita melanjutkan perjalanan dan mampir ke sebuah Bakery Halal dan membungkus beberapa roti untuk dibawa pulang. Selain itu, kita mampir juga di sebuah restaurant yang menyediakan menu Korea Halal. Adik saya memesan  Bibimbap dan saya mencoba memesan Galbi Thang. Bibimbap adalah nasi dengan toping sayuran+daging sapi/telur, Galbi Thang itu sejenis sop Iga kalo disini. Makanan Korea itu porsinya besar-besar, sangat mengenyangkan! Khususnya bagi saya yg makan selalu dalam porsi kecil. Akhirnya ketemu nasi juga. Alhamdulillah…🙂

Setelah kenyang makan, kita memutuskan kembali ke penginapan menggunakan Subway dari stasiun Itaewon, karena hari sudah mulai beranjak sore.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s