Sawarna Beach, The Hidden Paradise

Posted: January 30, 2012 in Travel

Menjelang pergantian Tahun dari 2011 ke 2012 lalu, saya dan beberapa Sahabat meluangkan sedikit waktu yang tersisa dari rutinitas pekerjaan, untuk menyingkir ke sebuah tempat wisata yang berada di pelosok. Jauh dari kebisingan dan polusi Jakarta.  Liburan yang tidak terencana , ide-nya tiba-tiba saja keluar dari salah  seorang sahabat. Sudah barang tentu saja di saat liburan tahun baru seperti itu susah sekali mendapatkan penginapan. Tadinya mau “ngeteng” aja, tapi setelah cari referensi sana-sini, sepertinya akan menjadi perjalanan yang melelahkan. Akhirnya, setelah browsing sana-sini, ditemukan satu Event Organizer Traveling yang bisa membawa kami ke lokasi Pantai Sawarna yang terletak di Kabupaten Lebak, Bayah, Banten. Tidak perlu repot mempersiapkan mobil dan mencari penginapan, semua sudah beres!

Namun ternyata kami berangkat dengan rombongan yang sangat besar. Sekitar 4 mobil Elf! Ketika mengikuti perjalanan, dengan jumlah yang sangat banyak, sudah terbayang dari awal akan dihadapkan dengan kondisi yang tidak nyaman. Waktu tempuh dari Jakarta ke lokasi wisata, lewat jalur Rangkasbitung sekitar 7-8 Jam (katanya sih ada alternatif lain menuju Sukabumi yang bisa lebih dekat). Starting point kami dari Carrefour MT Haryono. Selama perjalanan menuju Sawwana terus terang saya tidak begitu nyimak, karena perjalanan dilakukan malam hari, dengan pulasnya sepangjang perjalanan saya tertidur🙂 Sempat beberapa kali bangun ketika jalanan rusak dan waktu mampir di sebuah mesjid karena pada kebelet pipis :-p

Diperkirakan akan sampai di TKP pukul 3 or 4 Shubuh, ternyata sampai jam 6 pagi kita belum sampai! Itupun sempat di tengah jalan kita terhambat oleh pohon tumbang. Setelah menunggu pohon tumbang tersebut disingkirkan, akhirnya kita bisa melanjutkan perjalanan lagi. Sebetulnya sangat menyeramkan kalau kita tdak konvoi beberapa mobil, tempatnya sepi banget! Seperti hutan gitu.

Sampai Sawarna sekitar pukul 7 pagi, kita langsung menuju penginapan. Dan ternyata… banyak pengunjung yang ingin melewatkan pergantian tahun seperti kita juga di Sawarna. Walhasil..parkiran penuh! Mayoritas ber-plat “B” dari Jakarta. Untuk menuju Desa Sawarna, kita harus melewati sebuah jembatan gantung. Selain bisa dilewati orang, juga bisa dilewati kendaraan. Maksimal hanya bisa dilewatin 10 orang, jadi kalau banyak yang mau lewat harus antri dulu. Takut jembatan putus.

Penginapan yang disediakan EO kita sebetulnya cukup enak. Tapi karena satu rumah dihuni oleh suangaaaaat banyak orang, akhirnya jadi ga nyaman😦 Belum lagi dengan Toilet yang sangat terbatas. Mau mandi, mau Wudhu, apalagi kalau kebelet pipis dan pup sangat susah sekali. Kalau terpaksa banget ya numpang di rumah si Ibu yang punya penginapan. Kita saja satu kamar di isi oleh 6 orang! Satu penginapan dibikin kayak Barak gitu, hanya di isi kasur ngampar di bawah. Bayangkan sendiri deh…

Istirahat sebentar, sarapan, bersih-bersih. Kita langsung menuju tempat wisata pertama “Goa Lalay”. Dari penginapan bisa jalan kaki, tapi lumayan jauh juga sih. Karena ada fasilitas mobil, ya kita pilih naik mobil aja lah🙂 Tapi ternyata yang bawa mobil tidak tahu jalan, akhirnya putar balik arah lagi. Menuju Goa Lalay, kendaraan hanya bisa diparkir sampai pinggir jalan. Habis itu kita harus jalan kaki melewati perumahan penduduk , sawah serta kebun, juga ada jembatan gantung lagi yang harus kita lewati. Tempatnya di sekitar persawahan. Kalau musim hujan, jalanan licin, siap-siap sandal jepit aja biar ga berat jalannya karena banyak lumpur yang menempel.

Sampai Goa Lalay, lucunya kita ga’ dipandu lagi sama si EO buat masuk. Penerangan yang katanya akan disediakan juga tidak ada. Untung saya sudah siap-siap bawa cadangan senter yang  bisa di tempel diatas kepala buat masuk kedalam gua. Guanya gelap soalnya. Banyak teman-teman yang tidak mau masuk, karena di pintu gua air mengalir deras, mungkin karena sehabis hujan. Tapi pas saya masuk kedalam dengan seorang teman, ternyata airnya tenang. Tapi memang agak cukup dalam. Kita pun tidak terlalu begitu masuk kedalam, dan tidak menemukan satu pun si Lalay (Lalay dalam bahasa Sunda artinya Kelelawar. Dinamakan Gua Lalay karena disitu banyak Kelelawarnya).

Setelah selesai menyusuri Goa Lalay, kita kembali ke penginapan untk makan siang dan beristirahat sebentar. Sore-nya menjelang sunset kita main ke Pantai Pasir Putih dan Tanjung Layar. Konon, Tanjung Layar ini adalah spot yang paling bagus untuk menyaksikan sunset. Dari penginapan kita sih ditulisnya sekitar 700m jaraknya, tapi pas dijalani jauh banget bo’! Karena cuaca mendung, saya sedikit pesimis sunset akan terlihat. Sementara yang lain bertahan, saya dan beberapa teman berniat pulang (inget mandi yang harus antri). Tapi ketika kita dalam perjalanan, berangsur-angsur cerah. Sampai penginapan, langit terlihat terang kembali. Akhirnya saya berlari ingin mengabadikan indahnya moment sunset tersebut. Tapi sayang, ketika sampai pantai lagi, sunset-nya sudah tertutup awan kelabu lagi. Whuaaa…!!!!! *emang ga jodoh.

Gigit jari, akhirnya kami kembali ke penginapan. Untuk mandi dan sholat Maghrib. Dan ternyata kami mendapat kabar buruk. Acara Berbeque untuk malam Tahun Baru di-cancel!katanya sih ga dapat ikan segar buat dipakai BBQ-an. Dan akhirnya kita makan prasmanan seperti biasa. Setelah makan kita kembali penginapan, ada sebagian yang main kartu  di teras penginapan, sementara kita semua masuk kamar memilih untuk beristirahat. Niatnya sih malamnya mau pergi ke pantai. Tapi karena hujan sangat deras disertai petir, akhirnya di malam Tahun Baru kita pun tertidur pulas. Zzzzzzzzzzzzzz…….

Bangun pagi, tadinya ingin melihat Sunrise, tapi cuaca tidak mendukung. Hujan terus mengguyur, membuat kita memilih untuk tidur lagi setelah Sholat Shubuh. Ngapain juga keluar hujan-hujan. Untungnya selepas pagi cuaca lumayan cerah (panas malahan), dan beberapa memilih untuk bermain ke Pantai Lagon Pari. Namun karena harus treking jauh ditambah “katanya” medan yang sulit dan ada yang longsor, sebagian memilih untuk balik arah dan kembali ke penginapan.  Saya dan teman-teman memilih untuk “ber-foto session” di Pantai Pasir Putih lagi, meski bosan, tapi lumayan dapat spot bagus dan bisa  explore bermacam ekspresi gokil  :) Meski harus berkorban kulit menjadi eksotis (baca: Gosong) terbakar matahari.

Setelah makan siang, kita kembali ke Jakarta. Ada kejadian menyeramkan ketika kita lewati tanjakan curam selepas Desa Sarwana. Mobilnya ga kuat nanjak! Awalnya mobil pertama yang ga kuat, dibantu sama sopir kita buat naik. Namun ternyata sopir kita pun ga berhasil nanjak. Seremnya karena mobil berhenti di atas tanjakan, kita pun terbirit-birit turun! Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya mobil pun berhasil melewati tanjakan. Alhamdulillah….

Dan anehnya lagi, sopir tidak begitu tahu jalan. Setelah bertanya sana-sini dan melewati jalan yang panjang, akhirnya sampai juga kita di jalan tol Merak. Untung saja kita sempat menemukan pom bensin, jadi bisa istirahat sejenak dan isi perut yang sudah kruyuk-kruyuk. Pengalaman deh…kalau mencari EO Traveling harus jeli. Jangan asal pilih. Sepertinya, EO yang kami pilih kali ini hanya sebagai perantara, mereka meng-order-kan perjalanan ke pihak lain. Lucu sekaligus sebel sama pendamping tour yang tidak tahu apa-apa. Ditanya ini-itu ga tau. Selama di sanapun kita tidak di-organize dengan baik. Ikut EO, tapi berasa pergi sendiri. Mana bayarnya juga sudah termasuk MAHAL, kita ke Sawarna waktu itu bayar sekitar 450rb. Itenary ada yang di-cancel seenaknya, tanpa ada alternatif pengganti. Nasiib..Nasiiib…..

Comments
  1. Ade Ismail says:

    tempatnya bagus mbak…
    mupeng ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s