99 Cahaya di Langit Eropa – Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa : Sebuah Resensi Buku

Posted: January 30, 2012 in Travel

Beberapa waktu lalu, ketika saya dan teman-teman kantor iseng pergi ke sebuah toko buku. Ada 1 buku yang saya lihat “Best Seller” dipajang, bertema Traveling, namun saya belum punya. Heran juga sih, untuk saya yang hobi jalan-jalan dan suka koleksi buku Traveling , kok bisa terlewatkan belum baca🙂. Ketika melihat resensi-nya yang ada di belakang buku itu sempat terfikir “Wah, lumayan juga nih tema-nya. Jarang-jarang buku yang isinya mengupas perjalanan bernuansa Islami. Di Eropa pula!”. Akhirnya saya ambil buku itu. Sampai rumah pun, saya tidak langsung membacanya (kebiasaan banget! Hehe…). Setelah lama tersimpan, dan kebetulan buku yang sedang saya baca sudah tamat, akhirnya saya pun beralih ke buku yang berjudul “99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa ” ,yang saat itu pula baru saya buka sampul plastik dari toko-nya :-p

Halaman demi halaman pertama saya baca. Langsung ‘anteng’ bacanya! Meski bercerita tentang sejarah peradaban Islam di masa lalu, namun buku ini tidak monoton seperti  waktu dulu kita di sekolah belajar sejarah (Tarikh Islam). Membaca buku ini, dengan gaya penulisannya yang aktif, kita seakan ikut serta dalam perjalanan si penulis keliling Eropa . Penasaran, saya baca Biografi si Penulis-nya : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Oalaah…baru deh saya tahu kalau penulisnya adalah anaknya Amien Rais🙂 Jadi, Hanum ini menceritakan tentang perjalanan dia selama 3 tahun di Eropa  bekerja dan  menemani Rangga (suaminya) yang mendapatkan beasiswa S3 dari pemerintah Austria.

Ide untuk menulis buku ini berawal dari terjatuhnya harddisk yg berisi foto-foto kenangan selama perjalanan mereka di Eropa. Rangga mengatakan kepada Hanum “Sebagian foto-foto ini tak terselamatkan lagi,tapi kita masih bisa menyelamatkan kenangan perjalanan kita dalam sebuah buku. Kita harus menulis. Bukan hanya untuk kita,tapi juga membaginya untuk yang lain”. Hanum juga mengatakan dalam bukunya : “sudah terlalu banyak buku traveling sebelumnya, terutama tentang Eropa dan segala keindahannya yang hadir. Bangunan-bangunan, tempat yang wajib dikunjungi dan berikut trip-trip perjalanan dan cara kreatif untuk berhemat, semua dikemas untuk pembaca. Tapi saya buat saya sendiri,hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekedar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Menurut saya, makna sebuah perjalanan harus lebih besar dari itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi., memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan.” Saya setuju banget dengan kata-kata Hanum diatas. Namun, alangkah menyenangkan juga kalau bisa didapat dijangkau dengan biaya murah juga kan ya? Damai di Hati, Damai di Kocek. Hahaa… *teteuuup. maklum deh, backpacker kere’🙂

Kembali ke isi buku…

Di dalam buku “99 Cahaya di Langit Eropa” ini, Hanum menceritakan penjelajahannya selama di Eropa, sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini.: Vienna, Paris, Madrid, Cordoba, Granada dan Istanbul. Selain sejarah peradaban Islam di masa lalu, Hanum juga bercerita menenai pengalamannya menjadi minoritas seorang yang beragama Islam di negara yang mayoritas non muslim (bahkan ada yang tak beragama, Atheis).

Banyak kejadian yang diceritakan Hanum selama perjalanannya di Eropa yang membuat saya ikut tercengang. Tentang “tulisan” tersembunyi yang ada di balik mantel Raja Roger II yg tersimpan di Museum Harta Kerajaan di kompleks istana Hofburg, tulisan tersembunyi yang ada di kerudung Bunda Maria dalam lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus dan tulisan yang tersembunyi di peralatan makan yang tersimpan di Museum Louvre Prancis. Subhanallah…!

Belum lagi perjalanan yang menceritakan di jaman peradaban Islam berjaya, ada bangunan yang dulunya sebuah mesjid megah kini berubah menjadi sebuah gereja katedral terbesar (Mezquita di Cordoba), dan sebaliknya di Istambul ada sebuah bangunan yang dulunya gereja berubah menjadi sebuah mesjid (Hagia Sophia). Berbeda dengan keadaan di Cordoba dimana Mezquita tetap dipakai sebagai tempat ibadah ketika telah berubah (dari mesjid menjadi sebuah gereja) , sementara di Istanbul, Hagia Sophia yang dulunya gereja kemudian berubah fungsi menjadi mesjid tidak dipergunakan lagi sebagai tempat ibadah namun beralih fungsi dijadikan Museum yang bersifat Netral. Sebagai gantinya, tidak jauh dari tempat tersebut dibangun sebuah mesjid yang tak kalah megahnya bernama Blue Mosque. Saya ikut terbawa emosi, dan menitikkan air mata juga ketika membaca pengalaman spiritual Hanum berkunjung ke Mezquita.

Lain lagi ketika Hanum bercerita tentang Al-Hambra, yang terletak di Granada Spanyol. kompleks istana dan benteng yang dibangun pada pertengahan abad ke-13 oleh Bani Umayyah di Andalusia, yang berada diperbukitan kota Granada. Terus terang, saya menjadi sangat penasaran ingin kesana melihat langsung kemegahan dan keindahan Alhambra, yang katanya jauh lebih indah ketika dilihat di malam hari. Ikut terlarut sedih ketika diceritakan sultan terakhir pemilik kekuasaan, Mohammad Boabdil,  yang terusir tanpa perlawanan sama sekali, keluar dari istana-nya ketika dikepung oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella  yang sudah siap dengan pasukan besarnya. Ada suatu tempat di Istana ini yang dinamakan “Last Moor’s Sigh”, tempat Boabdil terakhir kalinya memandang Granada setelah menyerah. Berdoa dan Menangis. Hiks…

Menjadi sebuah minoritas (dalam Agama) memang tidak menyenangkan. Meski tidak se-ekstreem yang diceritakan Hanum, sebagai seorang traveler, saya pun pernah mengalaminya. Dimana kita sulit mencari tempat yang layak untuk beribadah, juga makanan Halal. Rasanya seperti menemukan “harta karun” saja ketika kita menemukan tempat ibadah atau makanan halal di tempat minoritas🙂 Namun kita jangan sampai berfikir “Susah ya menjadi seorang muslim”. Namun hal itersebut bisa kita jadikan sebuah tantangan yang HARUS di hadapi dan kita pecahkan solusinya.

Membaca buku ini, menjadikan saya semakin bangga menjadi seorang muslim. Dan ingin menjadi agen muslim yang baik, yang penuh senyum dan perdamaian. Seperti yang dikatakan Fatma sahabat Hanum dari Turki, yang banyak ikut mengisi cerita perjalanan ini. Dari sosok Fatma ini kita tahu bahwa Croissant itu bukan berasal dari  Prancis, tapi dari Austria. Roti ini dibuat untuk merayakan kekalahan Turki di Wina. Lihat saja bentuknya yang seperti bulan sabitt. Sebagai agen muslim yang baik, Fatma tidak “menyerang” turis yang ikut mengolok bangsanya ini ketika makan Croissant di dekatnya . Namun dengan “cara lain” yang membuat saya tersenyum bangga🙂

Di akhir kisahnya, Hanum bercerita tentang  perjalanan spiritualnya ke sebuah tempat, yang merupakan terminal akhir pejelajahannya selama 3 tahun lebih menapaki jejak sejarah Islam di Eropa. Sangat..sangat..sangat menyentuh. Penasaran ingin tahu kemana dan bagaimana perjalanan Hanum dan Rangga secara lengkap? Baca saja bukunya ya🙂 Wajib baca terutama buat yang beragama muslim. Yok mari kita belajar sejarah Islam lagi yang mungkin sudah kita lupakan sama sekali (nunjuk ke diri saya pribadi). Buat muslim yang suka Traveling, yok mulai dari sekarang kita jadwalkan perjalanan bukan hanya ke tempat yang indah-indah saja. Namun juga ikut mengagendakan perjalanan ke tempat-tempat bersejarah dalam peradaban Islam -> Ikut berjanji buat diri sendiri juga aaaah….Insha Allah🙂 Doakan saya juga biar bisa ikut menjelajah ke tempat-tempat peradaban Islam ya temaaaaans….. *Aamiin.

Comments
  1. marlindia says:

    wah, ini buku yang pernah saya cari dan belum ada saat saya mencarinya beberapa bulan yang lalu, dan terlupakan saja, karena asyik menunggu beredar di bandung😀

    pengen juga traveling ke situs-situs islam di seluruh dunia🙂

    • jul2julia says:

      @marlindia : Di Gramedia Jakarta sudah ditaro di rak buku “Best Seller” Jeng.. ga bakal susah lagi nyari dan sudah beberapa kali naik cetak. di bandung pasti sudah ada juga. Met Hunting🙂

  2. Muslimah says:

    Indonesia juga punya banyak jejak peradaban Islam masa lalu yang tak kalah hebatnya. Semoga suatu saat nanti ada juga yang membukukannya dan bercerita seperti Hanum. Ga bosenin kaya’ baca buku sejarah🙂

  3. pertama kali baca judul buku ini yang terlintas memang kisah islam di eropa. dan ternyata kalo dari resensi ini, buku itu emang lebih banyak bahas traveling dari sudut pandang sejarah Islam.
    sayang banget dua bulan ini belum mampir toko buku lagi😦

  4. Bunda Fiya says:

    awal tahun ini pas lg jalan2 ke toko buku sama fiya n my hubby.. iseng baca bukunya, eh ternyata bagus juga, akhirnya “terpaksa” beli deh…xixixixi… ga tau deh lg seneng baca dan pingin tahu ttg sejarah islam lbh bnyak setelah baca buku “SITUS-SITUS DALAM AL QURAN” nya harian Replubika, jadi pingin tau lebih banyak lagi aja.

    Oya, nambahin aja jul, yg bikin kaget lagi ternyata penjual daging babi di sekitar mezquita ada yg seorang muslim, hny karena tuntutan ekonomi. Dan ternyata kedai2 yg menjual babi di sekitar mezquita itu adalah sbg “pembuktian” bahwa islam telah kalah, maka dibikin lah kedai2 penjual babi yg jelas haram bagi umat islam.
    Pokoke bukunya asyik dibaca dan ringan tulisannya.

    • jul2julia says:

      @Bunda: Sengaja doong…ga semua diungkap,biar pada penasaran baca🙂 Tp emang bener tuh kasihan ya si Hassan, demi untuk hidup harus berbuat seprti itu. Kalo pengen tau wujud asli-nya situs-situs peradaban Islam bs cari di Youtube Rii…

  5. raras says:

    saya sangaaat setujuuu kata si penulis resensi ini mbak Julia (met kenal yaa)…membaca novel ini menjadikan saya semakiin bangga dengan Islam….karena Islam rahmatan lilalamiin..daan yang bikin kita semakin kaguum, peradaban Islam menancap keanggunan di benua Eropa walau sekarang mayoritas penduduknya bukan Muslim….

    ohyaa…ada info menariik neh, bagi yang mau jalan2 gratiis di Eropa ada kompetisi lomba foto kreatif 99 cahaya di langit Eropa…

    infonya ada disini http://www.hanumrais.com/

    • jul2julia says:

      @mba Raras: Salam kenal kembali🙂 Iya mba, rasanya sejuuuk baca buku ini. Semoga Islam akan semakin banyak diterima di negeri yg mayoritas Non Muslim. Terimakasih info kompetisi-nya, akan dicoba🙂

  6. thisisgenis says:

    Saya suka sekali buku ini, beberapa kali saya merinding bahkan sampai menangis. Wina itu salah satu kota yang dari kecil sudah jadi tujuan kalau2 bisa keliling dunia karena dari kecil sampai sekarang saya masih suka putar ulang film the Sound of Music. Dan ternyata kota itu juga ada hubungannya dengan Islam. Allah Maha Besar! Semoga suatu saat doa mba Hanum di buku itu terlaksana, Islam bisa jaya kembali di tanah Eropa…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s